Minggu, 08 Mei 2011

Daughter Impromptu - Next part


”Ia mengutuki kebodohan Ibunya setiap hari, Ia menangis dan menangis. Ia merasa telah kehilangan hal terbaik yang pernah ia miliki” Tante Ira bercerita sambil menatap gadis yang nampaknya sibuk bercanda dengan anak-anak kecil pasien rumah sakit itu.
”Ibu gadis itu merasa sangat berdosa, Ia selalu berkata ’Ibu rela menukarkan kaki Ibu denganmu’. Ia berkata maaf dengan berbagai cara pada anaknya, Ia menangis merengek, memohon, bahkan menyembah. Tapi anaknya tak bergeming. Ia diam saja tak memedulikan Ibunya. Seakan-akan ibunya tidak ada saja, itu terjadi selama beberapa tahun. Tapi kamu tau akhirnya?” Liya menggeleng.
”Ia memaafkan kesalahan ibunya, Ia sadar semua yang terjadi padanya adalah takdir. Toh dengan memusuhi Ibunya kakinya tak akan kembali seperti sedia kala kan?”
”Sekarang gadis itu dan ibunya” Kata tante Ira sambil menunjuk seorang wanita paruh baya yang sedang merajut sweater kecil di pinggir kolam.
”Mengabdikan diri mereka untuk menghibur anak-anak sakit dan cacat di rumah sakit – rumah sakit di sekitar Jakarta dan Bandung... Hah... betapa mulainya...” Kata Ira dengan efek agak berlebihan.
”Waktu telah menyembuhkan luka hati gadis itu pelan-pelan. Ada yang bilang waktu adalah Obat dan Dokter terbaik, Liya. Perlahan memaafkanlah Liya, Tante tau Liya anak baik..”
Liya tak dapat lagi menahan air matanya, Ia menangis. Liya merasa dirinya kembali. Tatapan matanya bukan lagi tatapan kosong, sinar matanya telah kembali.
***
Ketika diantar Tante Ira ke Kamar Liya, Kamarnya tampak sepi. Tante Ira membantu Liya duduk ke ranjang.
”Sekarang Liya istirahat ya, Tante yakin Liya akan sembuh pelan-pelan. Nanti kalo Liya sudah sembuh tante jenguk lagi..” Kata tente Ira sambil menyelimuti kaki Liya.
”Makasih tante” Kata Liya sambil tersenyum. Tante Liya sudah tak sanggup tekejut. Pasti lingkungan Liya juga membantu menyembuhkan psikisnya karena kemajuannya tampak sangat proggresive, pikir tante Ira.
”Sama-sama nak, Tante pulang ya...” Kata tante Ira sambil melambai dari depan pintu, Ia merasa tugasnya sudah selesai.
***
Beberapa saat setelah tante Ira pergi Yalieo datang membawa mawar putih lagi. Ia mengecup kening Liya seperti biasa.
”Feeling better Little Princess?”
Yali mengamati tangan Liya sudah tak terpasang selang infus lalu dia memindahkan mawar yang dibawanya ke vas bunga di nakas sebelah tempat tidur Liya. Liya diam saja. Yali dan semua orang terdekat Liya mulai terbiasa melihat Liya ’diam’ saja.
”Kakak...” Kata Liya sambil menatap Yali, bibir Yali membentuk huruf O. Dia bungkam.
”Apa? Liya bilang apa? Yali seperti tidak percaya pada telinganya.
”Kakak” Ulang Liya lagi sambil tersenyum.
Yali memeluk Liya. Dia senang sekali Liya akhirnya sembuh.
”Iya Liya ini kakak, kakak sayang Liya, sayang sekali..” Liya tersenyum menatap Yali ketika pelukannya dilepas,
”Liya mau es krim Blueberry sama Cheesecake juga” Kata Liya dengan lancarnya
”Ada disitu Kok Liya, makanan-makanan kesukaan Liya ada disitu” Kata Yali sambil menunjuk kulkas kecil di dekat sofa dan TV.
Ketika Yali malangkah ke kulkas Liya berjalan ke sofa dan menyalakan TV... Yali mengekor ke sofa. Yali menyerahkan sekotak es krim Blueberry dan sendok Teh ke Liya, lalu piring kecil cheesecake diletakan di meja.
”Jangan banyak-banyak Dek, nanti malah radang tenggorokan jadinya” Liya tampak tak peduli. Ia sibuk dengan es krimnya. Ia berhenti ketika sudah mengahabiskan setengah kotak eskrim.
”Ah Liya kenyang, sekarang ngantuk kak” Katanya merengek
”Yaudah, tidur gih” Kata Yali sambil menarik Liya ke ’kasur’nya.
”Liya mau disini aja, udah lama gak liat TV” Katanya padahal daritadi tampaknya Liya gak nyimak TV.
”Yaudah sini deh..” Yali meletakan tangannya dibelakang punggung Liya, dan menarik kepala Liya kepundaknya, lalu ia mengelus-elus rambut Liya dengan tangan kanannya.
”Nih kakak elus rambut Liya biar Liya cepet tidurnya”
”Kakak sok tau”
”Kakak emang tau Liya kok, nih ya kakak sebutin, Liya takut petir tapi Liya suka gerimis. Liya gak suka gelap. Liya paling gak suka dipaksa. Liya suka sekali sama Fro-yo. Liya suka matari pagi sama warna-warna cerah. Liya cinta mati sama fotografi. Bener kan?”
”Kalo lagi BT Liya suka corat-coret di kertas gambar kadang ngedisain juga. Liya benci pelajaran Biologi dan suka bangen Ekonomi dan Akuntansi. And you’re a big fan of Kevin Aprilio, huh’?” Dan ternyata Liya sudah tidur. Yali menggendong Liya ke tempat tidur, betapa kurusnya Liya sejak sakit. Yali miris sekali melihat Liya semakin ceking.
”Get well super soon little princess” Kata Yali setelah menyelimuti kaki Liya.
***
Saat Liya bangun hari matahari sudah tenggelam. Kamar Liya yang awalnya Lumayan luas jadi penuh nan sesak, ada Mami, Opa&Oma, Niang&Gungkak, Kak Yali&Seorang gadis cantik, Wijus&MbokJung serta Ajung Gede&Ibu.
”Liya udah bangun...” Kata Maminya sambil menghampiri Liya
”Mami maafin Liya ya, Liya juga maafin Mami...” Semua yang ada disana kaget, kecuali Yali pasti. Mereka bisa melihat mata Liya tidak kosong lagi. Mami Liya begitu terharu, hal pertama yang dilakukannya adalah memeluk Liya.
”Iya sayang, Iya, Mami yang perlu dimaafin, Liya gak salah apa-apa kok..” Mami melepaskan pelukannya lalu mengelus-elus rambut Liya sambil tersenyum.
Tiba-tiba saja Papi Liya masuk ke kamar Liya, tiba-tiba suasana hening. Tanpa bisa di duga-duga Liya berlari turun dari tempat tidurnya lalu memeluk Papinya dengan kaku. Papinya kaget sekali tapi lalu membalas pelukan Liya dengan sayang.
”Maafin Papi ya Nataliya, mulai sekarang papi gak akan tinggalin Liya lagi, Papi sayang sekali sama Liya, Papi akan kabulin apapun yang Liya minta...”
”Apapun?” Tanya Liya sambil melepaskan pelukan Papinya
”Apapun!” Papinya meyakinkan
”Kasi Liya waktu ya Pi, biarin Liya pelan-pelan nerima kehadiran Papi dan yang lainnya di hidup Liya, ini semua terlalu berat buat Liya”
Anything for you Liya, Papi ngerti kok” Kata Papinya
”Liya laper apa yang bisa Liya makan?” Tanya Liya membalikan badan menghadap ke’keluarga’nya. Semuanya pura-pura sibuk sendiri padahal Liya tau semua pasti denger percakapan Liya dan Papi tadi. Akhirnya Mbokjung yang berinisiatif.
”Gekya makan bubur ayam aja yuk, Mbokjung beliin di Ayam Presto tadi” Kata Mbokjung sambil menarik tangan Liya ke tempat tidur. Ketika Mbokjung akan menyuapi Liya
”Kak Yali suapin Liya ya” Yali tersenyum, Mbokjung shock.
”Sini Jung, Kakak aja” Kata Yali, Mbokjung menyerahkan buburnya pada Yali.
Saat melihat Liya makan sambil ngobrol dan disuapi Yali, Mami Liya tak tahan lagi. Ia menangis, Liya gadisnya sudah kembali.
***
Semuanya berjalan lancar setelah Liya keluar dari rumah sakit. Keadaan membaik, Gungkak yang awalnya keras jadi melunak dan mengizinkan Papi, Kak Yali Opa&Oma tinggal dirumah, this is called miracle after disaster mungkin ya.
Usut punya Usut ternyata Papi dan Opa Liya itu pebisnis yang sangat sukses dan tentunya kaya-raya. Hah Liya mangap segede-gedenya ketika diberi tahu nama-nama perusahaan yang dimiliki Opa&Papi. Ada produk kacang yang terkenal sampai luar negeri, bisnis property, pabrik mie instan, belakangan ada beberapa distro dan clothing line yang lebih banyak dipegang kak Yali. Dan akhirnya Liya tau H.W. dibelakang nama Liya artinya adalah Hamidjadja Woe. Nama Kakek Buyut Liya. Liya belum percaya Ia adalah salah satu calon pewaris perusahaan-perusahaan raksasa itu, hidupnya seperti sinetron saja.
Entah karena merasa bersalah atau apa Papi, Opa, Yali suka sekali memberi Liya hadiah-hadiah mahal yang kadang-kadang Liya pikir kemahalan.
Pertama waktu pulang dari rumah sakit Yali memberi Liya sebuah Kamera Lomo berwarna shocking Pink. Dan gadis cantik yang bersamanya itu dan ternyata adalah pacarnya, Yah Namanya Dera, Ia memberi Liya tas kecil berwarna Pink juga untuk tempat lomo-nya itu. Jelaslah Liya girang bukan main.
Papi lain lagi, Ia memberi Liya sebuah Mazda 2 berwarna merah dan supirnya, padahal kan Liya bisa nyetir. Liya jelas saja menolaknya, Ia kan sudah cinta sekali sama skuter matic yang baru saja dibelikan Maminya apalagi icon skuter itu Kevin Aprilio, mimpi sajalah menyuruh Liya berhenti naik motor. Akhirnya setelah berdebat diambilah jalan tengah mobil tetep atas nama Liya, tetep boleh naik motor, asal kalo lagi hujan harus naik mobil. Yah mau gak mau Liya mau, ada benernya juga kan?
Opa paling parah kayaknya. Beliau memberi Liya kunci, awalnya Liya gak ngerti itu kunci apa. Ternyata sebuah villa di Ubud. Opa bilang kapan aja Liya mau Liya boleh kesana. Itu punya Liya. Liya mangap, mingkem, mangap, mingkem, tau ikan mas koki? Kayak gitu dah.
***
Akhirnya setelah kurang lebih 2 bulan, semuanya akan kembali ke Rumah Jakarta, Kak Yali ke Melbourne tentunya. Yah selama ini Cuma Oma yang gak sama sekali pulang ke Jakarta, Papi, Opa, Yali tetep kalo ada kesempatan kesana terus ke Bali lagi gitu seterusnya.
Sekarang kondisi Liya sudah bener-bener baik, dan berat badannya juga sudah naik 2kg, yah walaupun berat-badannya yang sekarang jauh ketimbang berat badannya sebelum sakit dulu. Sebelum semuanya kembali kekesibukan masing-masing Liya dan keluarganya weekend-an di villa.
”Liya mau ikut Papi gak pindah sekolah ke Jakarta?”
”Pindah?”
”Iya, nanti kita tinggal di rumah kita di Jakarta, sama Mami juga..”
”Ehm... Enggak deh Pi, tanggung kan, Bulan depan Liya udah kelas 3, Liya juga udah klop sama temen-temen, and you know-lah Pi, I’m not good with new situation”
”Satu tahun itu gak sebentar Liya, Pikirin lagi ya, tapi Papi gak akan paksa Liya kok, Papi kan udah janji, apapun asal Liya seneng..” Kata Papi bonus senyum
”Yah thanks Pi,Setaun juga gak lama kok Pi, Liya janji akan sering-sering ke Jakarta dan Papi juga kan bisa ke Bali kapan aja..” Kata Liya seperti keputusan final.
Keesokan harinya Papi, Opa & Oma akan kembali ke Jakarta, dan Kak Yali ke Melbourne. Sedih juga rasanya bagi Liya. Liya, Mami, Gungkak & Niang mengantar ke Bandara. Kak Yali Take off duluan, setengah jam kemudian baru Papi, Opa & Oma. Pasti Liya akan kangen sekali sama Kak Yali selama ini mereka semakin akrab sih.
Saat Liya pulang ke rumah ia menemukan dua kotak, satunya sebuah kotak besar dan satunya kecil.
”Hadiah lagi?” Liya heran sekali.
Ia membuka yang besar duluan, isinya sweater rajut berwarna Pink-Pastel, ada rajutan huruf ’NHHW’ di bagiann tengah. Pasti Oma.
Lalu Liya membuka kotak yang kecil. Isinya beberapa kartu sejenis credit card atau ATM ya namanya, Liya juga gak ngerti yang jelas semuanya ada namanya Liya, ada satu yang mencolok banget
”AMEX? Berlebihan banget deh!” Ia heran mau diapain ya kartu-kartu itu.
Note-nya : Buy anything for bring you hapiness sweetheart – Love – Opa.
****
Minggu depannya Liya sudah di Bandara Soekarno-Hatta bersama Mami, Gungkak dan Niang. Yah first stop to go Jakarta House. Awalnya Gungkak nolak buat ikut karena Liya merengek, ngembek dan (setengah) memaksa Gungkak nyerah dan mau ikut.
Mereka dijemput Papi sendiri, Opa & Oma gak ikut Liya yang suruh, biar efisien gak perlu bawa dua mobil. Setelah bertemu Papi, berpelukan dan babibu akhirnya perjalanan pulang dimulai. Liya ketiduran di mobil, baru bangun setelah sampai di’rumah’.
Rumah Papi-Ups rumah Liya, lumayan besar, mungkin 3 atau 4 kali lebih besar dari rumah Gungkak di Bali. Kalau Liya tak salah hitung 4lantai.
”Gak banyak yang berubah Pi..” Mami nyeletuk
”Kamu belum liat yang didalam Yas, banyak yang berubah” Kata Oma
”Ayo sayang masuk!” Ajak Papi, Liya berjalan sambil bergelayut di lengan Papi.
Mereka mengitari kebun yang cukup besar ada berbagai tanaman-sebagian besar bunga. Pintu utama berwarna burgandy, dua pilar tiang besar berlilitkan naga merah berada di sisi kanan dan kiri pintu, terasa sekali tradisi bangsa Tionghoa. Saat masuk di terhampar ruang tamu yang sangat luas-mungkin mirip balroom. Dekorasinya perpaduan warna emas dan burgandy yang elegan dengan lampu kristal besar di tengah ruangan, satu set sofa berwarna burgandy dengan ukiran berwarna emas di sisi kiri ruangan, pajangan seperti guci-guci antik di sayap kanan ruangan. Terpisahkan beberapa anak tanggga adalah ruang keluarga berwarna kuning gading, ada satu set home theatre dan sofa yang sepertinya sangat homey. Ke arah kiri ruang tamu tampak beberapa kamar tidur dan di pojok ruangan sepertinya ruang makan – meja bundar dengan sepertinya 10 kursi. Di sisi kanan tampak tangga menuju lantai atas dan beberapa kamar tidur di pojok ada pintu yang menghubungkan dengan halaman belakang dan kolam renang. Belum sempat Liya menoleh ke arah lain, Opa sudah menarik tangan Liya
”Liat kamar Liya yuk, baru aja selesai di dekorasi ulang” Liya pasrah saja ngikutin Opa ke atas.
”Nah ini lantai dua kamar Papi-Mami Liya sama Opa-Oma, ada sih dua lagi gak ada yang nempatin kadang aja di aja dipake Papi jadi ruang kerja dadakan” Kata Opa saat berhenti di lantai 2
”Yuk naik” Sambung Opa
”Hah? Terus kamar Liya dimana?”
”Diatas sama kamar Yali spesial gitu loo buat anak-anak, ayook!” Kata Opa semangat banget, lupa kali minggu lalu baru ngeluh pinggangnya encok.
Lantai tiga ada 4 kamar juga, yang dua di pojok dekat balkon tampak lebih kecil. Dua lagi yang berhadap-hadapan. Lalu sisanya Sofa dan Mini Home Theatre serta perangkat sound DVD etc.
”Nah ini kamar Liya!” Seru Opa setelah menarik Liya ke dalam kamar yang dicat warna kuning gading.
Warna kamar Liya didominasi warna kuning gading, coklat pastel dan warna-warna soft lainnya. Luas kamar Liya ini mungkin 4kali kamarnya di Bali. Hah Liya melihatnya saja pusing.
”Ini kamar Liya sendirian ya Opa?” Tanya Liya cengo.
”Iyalah, masa satu RT?”
”luas amat sih, serem ah bobo sendirian apalagi kalo Kak Yali di Melbourne kan Liya sendirian dong di lantai 3? Hiii...”
”Yaampun udah gede masih aja penakut! Gampang suruh si mbak aja bobo di sebelah, Liya suka gak dekorasinya? Kerjaan si Yali loo”
”Yaa lumayanlah Pa, gak bikin sakit mata liatnya” Kata Liya sambil memerhatikan sekelilingnya.
Elegan dan ’remaja. LCD TV dengan perangkat sound, DVD, dan Disc player, diletakan berhadapan dengan satu set Sofa di sisi kanan pintu. Tempat tidurnya Kingsize dengan kelambu berwarna coklat pastel. Meja rias dengan cermin besar di sisi kiri tempat tidur. Meja belajar berjarak satu meter dari meja rias sudah dengan Mac-booknya, dengan view balai-balai disebelah kolam renang di bawah. Ha! Niat sekali Kak Yali, pikir Liya. Belum selesai disana, sebuah Wallincloset berukuran 3x4m di sisi kanan tempat tidur lengkap dengan wardrobe yang update. Yah memang selama ini Liya selalu ’menistakan’ wallinclosetnya dengan menyebutnya dengan almari. Toh juga fungsinya buat simpen baju, bodo ah namanya apaan, gitu sih menurut Liya. Dan terakhir kamar mandi dengan bathtub dan segala tek-tek bengek mandi-berendam lengkap, dijamin kalo udah di dalem gak pengen keluar *loh?
”Pa, isn’t its all to much for me? Liya kan masih tahun depan pindah kesini?”
”Ya gaklah sayang, weekend gitu Liya kesini kan? Yah dicicil dekorasinya dari sekarang, Liya boleh dekor ulang kamar ini juga kok kalo emang gak suka yang sekarang..”
”Dicicil? Ini udah cukup banget kok Opaa, ditambah Foto-foto sama lukisan aja ya, barangnya cukup deh Liya bingung liatnya nih”
”Yaaah padahal Opa masih mau nambahin blah blah blah blah blah..” Gak sopan sih tapi Liya mulai gak nyimak Opanya. Ia sibuk test drive DVD player, nah kebetulan ada DVD Jumper. Jadi deh Liya nonton, lupa Opanya lagi ceramah.
***
Hidup Liya bener-bener mulus habis sembuh itu. Ia semakin dekat dengan Papi, Opa, Oma dan Yali tentunya. Ia dan Yali bisa web-cam-an berjam-jam kadang, dan setiap ada kesempatan Yali pasti pulang kalo gak ke Bali ya Jakarta, tapi belakangan lebih sering ke Bali sih.
Akhir Mei, Liya menikuti Ulangan Kenaikan Kelas XII, dan kurang lebih 2 minggu kemudian Ia menerima hasilnya. Nilainya baik-baik saja, dan tak ada yang ’kebakaran’. Hubungannya dengan Vina,Ica,Angel juga semakin akrab. Dan terakhir akhir minggu kemarin Mbok Jung juga Liya ajak kerumah Jakarta, lumayamlah mereka keliling-keliling berburu barang-barang vintage kesukaan Mbokjung dan Liya dapet objek foto, di bali kan gak ada tempat-tempat gitu, dan untung ada Supir yang sangat handal (baca:Yali) dan siap mengantar mereka kemana-mana.
Akhirnya percakapan perayaan Sweet Seventeen Liya tak terelakan, padahal Liya pura-pura lupa dengan gak pernah ngebahas topik itu, eh Papi inget aja..
”Gak usah aja Pi ya, Papi tau kan Liya gak begitu suka pesta gitu”
”Liya sayang Papi mohon ya, sekali ini aja Liya mau ya nurutin kemauan Papi. Papi Cuma mau kenalin Liya ke kolega-kolega bisnis keluarga kita. Selama ini Papi gak pernah paksa Liya kan? Kali ini juga Papi gak paksa tapi Papi minta tolong Liya mau ya? Papi janji apapun hadiah yang Liya minta Papi kasi deh” Liya jadi gak enak hati pada Papinya dia ngalah deh jadinya.
”Yaudah deh Pi, terserah Papi aja, tapi ada syaratnya Pi, dan kalo syarat gak ada nego yaa”
”Apa syaratnya?”
”Pestanya gak usah megah-megah ya di rumah aja, jangan pake kolam renang, terus Liya terima beres gak mau Liya ikut-ikut persiapannya, gimana? Deal?”
”Yaah Liya, masa dirumah? Kurang luas doong, Di hotel Piip aja yaa?”
”Yaudah Liya gak mau, kalo pestanya dirumah minimal Liya masih kenal lingkungannya Pi, kalo Liya sumpek Liya masih bisa ’ngadem di pinggir kolam’ ato dimana kek” Kata Liya gak penting banget.
”Oke! Papi nyerah deh dan jangan protes sama siapapun yang Papi undang dan apapun konsep pesta yang Papi buat, Deal?”
Deal, anggap aja pesta itu pesta Papi yaa” Papi Liya geleng-geleng kepala aja liat tingkah anaknya yang seenak jidat itu.
***
12 hari sebelum pesta Liya ’tinggal’ di Jakarta. Itupun karena Yali sudah dirumah jadi dia gak sendiri di lantai tiga. Beberapa hari kemudian Kak Dera juga udah di Jakarta. Kak Dera mangap waktu Liya bilang belum tau pake ’baju’ apa di pesta ’Papi’ nanti. Padahal Crew EO yang disewa Papi udah sering banget kerumah buat fix-in dekorasinya.
”Yaampun Liyaaaa! Ini kan udah H-9 hari! Dan Liya bener-bener belum ada gaun? Bahaya ini!”
”Bahaya gimana sih Kak? Santai aja di ’almari’ kan ada banyak yang belum pernah Liya pake” Kata Liya cuek sambil mengutak atik SLRnya.
”Gak bisa santai Liya darling! C’mon walaupun Liya gak pengen ada pesta, tapi minimal ’niat’ sedikit ya kalo masalah dandan!” Seru Kak Dera berapi-api
”Oke! Terus Liya mesti gimana?” Akhirnya Liya luluh
”Tema-tema? Tema pesta apa? Biar gampang cari gaun”
”Di undangannya sih ditulis ”Glam in the Dark” , jadi dresscodenya Hitam gitu buat tamu, Merah buat keluarga, terus Liya maunya pakai Putih dan accesorriesnya perpaduan Emas dan merah kalo bisa”
  ”Nice Idea! Gampanglah nanti Kakak bantu”
Jadilah sepanjang minggu itu Liya & Dera sibuk browsing dan ke Mall ini itu. Karena takut gak dapet gaun yang cocok Dera bilang penting adain Plan B dan C. Jadi Liya sudah membeli sebuah gaun berwarna merah dengan bolero bulu warna hitam untuk Plan B. Lalu sebuah one shoulder gown, selutut warna broken white yang kata Dera terlalu sederhana untuk dipakai di pesta sebagai Plan C.
2 hari sebelum pesta datang paket gaun, katanya sih dari temen Kak Dera di London sono. And you know? It’s amazing! Warna gaunnya Putih bersih. It was maxi dress. Modelnya kemben, tepat di bawah bagian dada ada sebuah belt kecil, tapi hanya terpasang di bagian depan, bahannya mungkin gold look alike. Bagian bawah gaun ’jatuh’ dengan sempurna. Bagian depan menutupi mata kaki. Bagian belakang lebih panjang, kalau pakai heels-pun nampak akan tetap menyentuh tanah, dan ketika Liya berjalan bagian belakang gaun nampak seperti dibuatkan ’efek angin’ dengan alaminya.
”Perfect! Thanks my dear Leona!” Kata Kak Dera sambil memerhatikan Liya.
”Makasi ya Kak Dera, Makasi” Liya Speechless
”Sekarang pelan-pelan Liya lepas gaunnya ya, nanti kakak yang rapiin, habis ini kita ke Mall – cari sepatu dan accessoriesnya”
Liya nurut aja. Dua jam kemudian mereka sudah sibuk wara-wiri keliling Mall. Akhirnya mereka pulang dengan lega. Liya mendapat sebuah heels, dengan hak berwarna putih dan tali-tali berwarna Emas. Accessoriesnya satu set gelang bernuansa Emas yang senada belt di gaunnya. Hiasan rambut berupa headband yang nampak seperti Tiara berkilau. Cincin berbentuk naga, yang jika dipakai nampak seperti melilit di jari. Dan sebuah kipas bulu Ayam berwarna putih. How Lucky Liya! She got anything with almost 4 hour in a mall.
Hah! Akhirnya mereka pulang dengan lega. Setelah mengantar Dera pulang baru Liya pulang, hari ini Yali ada meeting sama Papi, jadi Liya dan Dera diantar supir. Sampai rumah Liya langsung tepar.
***
Besok paginya Dera sudah dirumah Liya lagi, hari ini mereka berdua sibuk berdiskusi tentang make-up yang cocok untung Liya besok. Liya bersikeras hanya mau di make up oleh Dera, no other. Dera sih gak keberatan toh juga untuk menguji kemampuannya.
Liya Cuma pake kaos gombrong & celana pendek – Baju kebangsaan, waktu Yali naik dan diekor seseorang. Kayaknya tau, OH gosh! Jantung Liya kayaknya mau melorot ke kaki, ngeliat yang ada di belakang Yali.
”KEVIN! What a lovely surprise!” tiba-tiba aja Dera sudah berpelukan dengan ’Kevin’ itu. Kevin who? Aprilio, Yes! Aprilio, makanya sekarang Liya pengen pingsan aja rasanya.
”Kok bengong sih dek? Kaget ya?” Kata Yali-Liya masih shock.
”Kapan lo balik?” Tanya Kevin ke Dera
”Kapan sih Yal? Udah hampir 10 hari kali ya?”
”Ho’oh. Makin kurus aja lo Ra, gak sanggup beli makan ya di London?” Canda Kevin
”Sialan Lo! Tuntutan profesi you know!” Duh Liya kayak obat nyamuk aja gak ngerti ini orang-orang ngomong apaan.
Yali menarik Liya menuju Kevin dan Dera yang memang sedari tadi ngobbrol diambang tangga.
”Ayok dong kenalan Liya. Kak Kevin ini, Kak Kevin Aprilio” goda Yali. Kak Yali ini sialan banget pake godain, sungut Liya dalam hati. Alamat makin grogilah Liya. Kevin menyodorkan tangan untuk berjabatan, Liya menyambut dengan gelagapan.
”Ah iya, Na.. Nataliya... Eh Liya...” Kata Liya gagap. Duh kok aslinya ganteng gitu ya, di TV juga ganteng sih, tapi aslinya lebih. Halah Liya ngelantur pikirannya.
”Aaaa nervous ya ketemu idola?” Liya spontan nginjek Kaki Yali.
”Aw! Sakit dek! Apasih injek-injek segala!?”
Kevin dan Dera cekikikan ngeliat Yali dan Liya berantem gitu.
”Jadi dulu itu rumah kita di depan rumah Liya ini, Kevin rumahnya di sebelah rumah Kak Dera, Waktu kecil kita sering main bareng, emang sih Aku sama kevin akhirnya pindah rumah, tapi masih satu sekolah sampe SMP, Aku sama Kevin se-grade, Yali diatas kita setaun, Aku sama Yali masuk SMA yang sama, Kevin Homeschooling. Tapi kita masih sering jalan bareng sih, Cuma gara-gara kuliah ini jadi jarang ketemu.” Dera menjelaskan sambil senyum menggoda ke Liya.
”Ooo jadi temen masa kecil gitu ya?” Tanya Lia retoris
”Iya kira-kira begitulah” Kata Kevin. Lalu hening. Cuma suara cekikikan Dera dan Yali yang terdengar. Lalu ponsel Dera bunyi.
”Ya Ma? Pulang sekarang? Astaga Iya Rara baru inget Mama! Rara pulang sekarang deh ya, Yuk bye Ma.”
”Sorry guys, kayaknya gue pulang sekarang ya lupa janji sama Mama nemenin ke butik buat besok. Dan Liya, kakak udah ada bayangan kok buat ’besok’, Kak Ra pulang, Oke?”
”Oke, Thanks Kak, hati-hati ya”
”Yuk aku anter Ra, kamu dianter supir kan tadi pagi?”
”Iyasih, tapi Kevin?” Tanya Dera
” ’kan ada Liya, lagipula Kevin kesini kan buat test Pianonya, acara Liya ini besok!”
”Eh kak! Tap.. Tapi kan?!” belum sempat Liya bicara Kak Yali udah cepet-cepet turun tangga sama Kak Dera.
”Pianonya udah dibawah ni dek, bilang Kevin udah bisa dicoba!” Seru Yali dari bawah.
”Iya bawel” Sungut Liya pelan-pelan.
”Yuk Kak turun, kakak bisa langsung ’coba’ pianonya” Kata Liya sedikit canggung
Crew EO sudah sibuk mengangkat barang-barang keluar masuk tapi Piaononya sendiri sudah diletakan di sebuah podium kecil dadakan. Kevin duduk dan mulai mencoba-coba nada. Lalu memainkan nada. Aku memerhatikan sambil berdiri disamping Piano.
”Bagus Kak”
”Thanks!” Katanya bonus senyum, duh kayaknya suhu badan Liya meningkat nih.
”Kevin?” Sapa Mami yang baru saja masuk sambil menenteng beberapa kantong belanjaan, entah apa isinya. Ah iya, dulu kan Kak Kevin tetangga, pikir Liya.
”Tante? Iya nih udah lama gak ketemu” Kata Kevin mendekati Mami lalu menyalaminya.
”Ah iya, Kevin main besok ya?” Mami berkata seperti baru saja ingat
”Iya Tante, Kata Yali, Liya yang request...” Pencemaran nama baik nih Kak Yali! Seru Liya dalam hati.
”Hahahaha.... Iya tuh Liya dari dulu kan nge-fans banget sama kamu Vin!” Liya pengen sembunyi di kolong Piano sekarang! MALU!
”Mami...” Liya melas banget ngomongnya.
”Okay Liya Mami just kidding, ngomong-ngomong kita makan siang bareng ya Vin, tadi pagi Liya yang masak loh! Sekarang tante panasin dulu ya, kalian ntar susul aja ke ruang makan” Kata Mami Sambil melambai menjauh
”Makasi tante!” Seru Kevin
”Kak kata-kata Mami gak usah diambil hati ya, taulah Mami” Liya mesam-mesem
”Hahahahaha.... take it easy Liya, kamu nge-fans sama aku beneran juga gakpapa kali” Muka Liya kayak tomat ”Bercanda deng!” Lanjut Kevin, lalu mereka cekikikan bersama.
”Yaudah yuk makan, ditunggu Mami ’kan?”
”Yuk deh!” Kevin mengekor Liya
***
”Eh ada Kevin! Yuk makan sama-sama” Kata Opa. Liya serasa orang terakhir didunia yang tau keluarga mereka ’kenal’ sama Kevin.
”Iya Opa, Opa-Oma apa kabar?” Tanya kevin sambil menarik kursi dan duduk, Liya juga.
”Baik Vin, kamu gimana? Papa, Mama sehat ’kan? Band-kamu makin terkenal aja nih kayaknya...” Wah Oma kumat penyakit ’investigasi’ isengnya.
”Baik Oma, Mama-Papa juga sehat. Ah Oma bisa aja, jadi malu dengernya”
”Iya lo Vin, tuh si Liya suka banget sama Band kamu, kamu terutama, dari dulu sih Liya sukanya” Opa nimbrung ngobrol Ah sial! Maki Liya dalam hati.
”Opaaaaaaaa” Liya merengek, habis sudah malu 0-meternya.
”Iya iyaaa, bercanda Vin ya?” Kata Opa cuek sambil mulai menyendok ini itu.
”Hahaha.. Iyadeh Opa” Sambung Kevin cekikikan, Opa masih aja lucu kayak dulu, pikirnya.
”Udah yuk makan dulu, Liya Kak Kevinnya diambilin gih” Kata Mami
Liya nurut, dia sendokin makanan ke piring Kevin, tapi gak berani noleh, terlanjur malu sih. Akhirnya suasana cair sendiri sih, jadilah mereka ngobrol ngalor-ngidul. Pas selesai makan, pas Kevin dapet telpon, kayaknya penting gitu karna setelahnya dia langsung pamit pulang.
Pas nganter Kevin kedepan, Liya ngerasa masih deg-degan banget. Duh Kak Yali sih gara-gara, 'nitip' temen yang kayak Kak Kevin, pikir Liya, tapi seneng sih. Nah ini remaja labil.
***
Malamnya Liya mendapatkan kejutan yang menyenangkan, sepupu-sepupunya tiba di Jakarta, termasuk si Kecil Rena, Ah seneng deh rumah jadi rame!
Liya tidur awal waktu itu, maunya sih biar besoknya Fit. Ternyata jam 12 Liya dibangunin semua keluarganya kumpul dan bawa cake dengan lilin ’17’ terus cupcake dengan versi kartun dirinya, dan beraneka kado-kado lainya. Liya menangis saking bahagianya, Ia speechless, waktu disuruh make a wish Liya bingung mau bilang apa yang keluar cuma ”Makasi tuhan udah sayang Liya, makasi tuhan”.
Liya tidur nyenyaaaaak sekali malam itu, sama Mbokjung Ayu, Mbokjung Nana juga.
***
Finally, the day of the day!
Seharian itu Liya kayak dipingit, dilarang keras keluar kamar, terutama turun ke lantai 1. Jadilah Liya leyeh-leyeh dikamarnya, dilulurin, Meni-pedi, Facial, masker. Makan dianter ke kamar. Duh Putri dadakan deh.
Siangnya Dera dateng bawa koper super duper gede ke kamar Liya. Saking enaknya di ’layani’ Liya sampe ketiduran. Pas bangun terus mandi ternyata udah jam 3, Liya jadi bingung sendiri, kok jarum jamnya gerak cepet banget?
Kak Dera udah nunggu dikamar pas Liya keluar kamar mandi, ’perkakas’ make up-nya udah di jejerin aja dimana-mana.
”Hay Kakak cantik!” Sapa Liya riang-gembira *loh?
”Hello Princess of today! Happy birthday by the way – giftna nanti ya” Kata Dera mencipika-cipiki Liya
”Thanks kak, kakak selama ini bantuin Liya udah gift paling bagus kok!” Kata Lia tulus.
”Bisa aja deh kamu! Mau dandan sekarang?”
”Gak kecepetan ya kak? Kan di rundown Liya baru turun jam setengah 7?”
”Ya gaklah Liya, apalagi kamu kan center point-nya today! Tapi ya gampanglah kakak mandi dulu kali ya, ntar kakak balik lagi”
”Eh emang Kak Ra mau mandi dimana? Kenapa gak disini aja?”
”Barang-barang kakak dibawah nih, habis mandi deh kakak bawa kesini barang-barang kakak ya. Kalo Liya laper makan dulu ya, trus langsung gosok gigi yang bersih” Kata Dera yang segera menghilang dibalik pintu.
Liya minta si Mbak nganterin makanan lewat intercom. 10 menit kemudian Liya sudah sibuk melahap sandwich dan orange juice yang dibawakan si Mbak, lalu Ia segera gosok gigi, tak berapa lama kemudian Dera sudah muncul lagi membawa beberapa kantong belanjaan, mungkin gaun dan sepatu yang akan Ia kenakan.
”Yuk duduk disini! Rambut dulu ya sayang” Kata Dera menarik Liya ke depan cermin.
Dera mulai mengoleskan, menyemprotkan foam-foam rambut yang Liya sendiri gak ngerti fungsinya. Dera membiarkan poni Liya kedepan dan meng’roll’nya, lalu Dera membagi rambut Liya menjadi bagian-bagian kecil dan memasangkan electric curling iron yang bentuknya lebih mirip ’roll’ ke rambut Liya. Sambil menunggu rambut Liya jadi Dera meminta Liya mengompres sendiri wajahnya dengan es batu, agar make up bertahan di wajah lebih lama. Lalu Ia mulai memoleskan fondasi ke wajah Liya. Berikut bedak A-B-C-D, Liya pasrah saja gak ngerti sih. Lalu Dera kembali ke rambut, Ia melepas electric curling Ironya satu per satu dan voilaa... rambut Liya yang aslina so freakingly straight jadi ikal-ikal kayak Maria Belen. Dera menemprotkan Hair spray ke rambut ikal Liya agar lebih tahan lama, selanjutnya mengambil sejumput rambut di bagian pelipis Liya, dan menyatukanna ke belakang.
Untuk make-up Dera memilih warna-warna natural, ia tau Liya gak akan rela tampil dengan ’dempulan’ yang berlebihan walaupun dimata Dera itu terlihat wajar. Ia memilih mencampurkan kuning gading dan coklat muda untuk Make-up dan Orange ’dicampur’ merah utuk lipsticknya.
Yah Liya finish! Ia memaksa Dera untuk make-up-an dan menata rambut lalu ia mau memakai gaunnya karena takut, gaun itu kusut duluan. Dera setuju, toh juga Ia gak akan pol-polaan amat dandannya, Ia ingin Liya-lah yang jadi center point today, walaupun Ia juga gak yakin Liya pengen.
Jam 6 waktu Mami Liya masuk kamar, Mami sudah terlihat cantik dengan maxi dress burgandy-nya, rambut Mami disanggul modern.
”Loh Liya kok belum pake gaunnya? Dibawah tamunya udah rame loh...” Kata Mami was-was.
”Santai Mi, tinggal gaun kok yang lain udah fix semua”
”Inget nanti Liya baru turun kalo udah dikasi kode dari MC sama Yali ya. Ntar Jung Ayu sama Jung Nana Mami suruh naik nemenin kalian. Dera, Jung Ayu, Jung Nana turun setelah Liya turun ya, dan Dera makasi banyak buat semuanya tante titip Liya ya” Kata Mami lalu melangkah keluar kamar.
”Beres tante!” seru Dera yang tampak sudah selesai dandan.
”Liya pake sepatunya ya kak? Kakak tolong ambilin gaunnya Liya takut malah kusut kalo Liya yang keluarin”
”Sip!” Dengan sigap Dera bergerak ke ’almari’ Liya.
Tak sampai 20 menit Liya sudah benar-benar siap. Cincin di jari manis tangan kiri. Beberapa gelang di tangan kanan. Dan headband-semi-tiara dirambut. Yak Liya siap keluar ’sarang’nya.
Saat Liya keluar kamar tepat sekali Jung Ayu dan Jung Nana sampai disana.
”You look so damn pretty Gekya!” Seru Jung Nana
”Thanks Mbokjung, Mbokjung juga cantik kok berdua” Puji Liya tulus, mereka memakai gaun ’soft red’ Jung Ayu model one shoulder dan Jung Nana lebih berani dengan memakai model kemben yang agak mini.
Sambil menunggu kode dari Kak Yali dan Kak Dera yang sedang pakai gaun, Ia berjalan mondar-mandir untuk menyesuaikan kaki sepatu hak dan ’ekor’ gaunnya. Tap tap tap tap ! Yak! Semoga semua lancar. Doanya.
Yah here it go. Setelah ’kode’ Kak Yali sampai Liya turun ke lantai dua. Lalu Suara MC membahana ”Please welcome! Nataliya Hariana Hamidjadja Woe”. Liya turun melewati tangga tanpa disangkak ’spot light’ mengiringi langkahnya, belum lagi kamera-kamera fotografer yang blitz-nya menyilaukan mata. Ia sudah ingin menunduk karena malu, tapi Ia keburu melihat ’sinyal’ Opa yang menuruhnya menegakkan kepala. Yah Liya lakukan sajalah.
”And look how beautiful she is, right? Kata Mcnya bikin Liya blushing.
Tamu-tamu bertepuk tangan. Di ujung tangga tampak Kak Yali sudah menunggu Liya, dan selanjutnya menggandeng Liya ke tengah-tengah podium. Papi memberi sambutan singkat kepada tamu ang sudah datang datang dan blablabla Liya tak menyimak. Ia memerhatikan Piano disebelah Podium kok kosong ya? Liya jaddi kecewa. Perhatiannya selanjutnya tertuju pada Kue tart yang didorong seorang waitres, bentuknya camera! Mirip sekali dengan EOS 60D Liya. It was just white and bigger.
”Ayo hadirin kita nyanyi sama-sama buat Liya!” Kata MC sambil diiringi musik dari ’band’ yang sisewa Papi.
”Yuk Liya Make a Wish!” Seru Mc itu. Suasana hening sejenak, Liya make a wish. Selanjutntya Liya meniup Lilinya.
First Cake-nya Liya kasi ke Papi dan Mami yang kebetulan berdiri sebelahan, lalu ada second cake katanya, jelas untuk Yali.
”Sekarang Liya boleh bicara sepatah-dua patah kata deh buat tamu yang dateng...” Kata sang MC menyerahkan Mikenya. Liya udah siap-siap sih buat ini tapi tetep aja grogi rasana.
”Makasi buat semua tamu yang sudah meluangkan waktunya untuk hadir hari ini, I just can't say nothing more than thanks, thanks and thanks. Terutama buat Papi, Mami, Kakak, Opa, Oma, Kak Dera, Mbok jung, Wijus dan semua keluarga saya, dan Ica? Angel? Vina? What a lovely sureprise! Thanks Papi!” Kata Liya waktu melihat sahabat-sahabatnya diantara kerumunan tamu. ”Dan satu lagi nikmati pestanya semua, makasi” Kata Liya menyerahkan kembali Mikenya pada MC.
”Itu dia tadi sambutan dari ’Hamidjadja Woe’s little princess’. Berikutnya adalah acara ramah tamah, hadirin sekalian diperkenankan untuk menyantap hidangan yang telah disediakan, diiringi lagu-lagu yang akan dinanyikan oleh Home band berikut ini, selamat menikmati!”
Dan kerumunan bubar, Liya dan keluarganya juga berbaur dengan tamu. Liya tentu saja menghampiri sahabat-sahabatnya.
”Hey guys, again what a lovely sureprise meet you all here” Kata Liya semangat banget.
”Hahaha.... Kita juga kaget Papi kamu tiba-tiba kasitau kita, Happy birthday ya sayang! Longlife!” Kata Vina sambil memeluk Liya
”Have bless my dear” Kata Ica
”All the best in this life for you sayang” Kata Angel.
”Makasi ya, makasi kalian udah disini, kalian itu bener-bener penghiburan deh!” Kata Liya kehabisan kata-kata. Lalu tiba-tiba Papi mendekati Liya dan berbisik.
”Nak sini ikut Papi ya, Papi mau kenalin Liya ke temen Papi”
”Ntar Liya susul Papi ya, Liya pamit sebentar aja” Balas Liya berbisik.
”Guys kayaknya Papi mau kenalin aku ke temen-temenya gitu, jadi please enjoy the party. We talk after this all ya. Dan disini ada Mbokjung ayu kok, kalian bisa gabung bareng dia kan?”
”Don’t worry Liya, we can handle Us, just follow your Dad!” Kata Angel, diikuti lambaian Ica dan Vina.
Lalu mulailah peniksaan Liya..
”Liya ini Oom Anton, pemilik PT. *piiip, itulo Apartemen di daerah *piip”
”Halo Liya kamu cantik sekali, happy birthday ya” Kata si Oom Anton menjabat tangan Liya.
”Makasi ya Oom, dan makasi sudah ngeluangin waktu buat dateng, nikmatin hidangannya ya..” Lalu mereka babibu sebentar. Gak berapa lama kemudian dateng Kak Yali narik Liya ke temennya.
”Liya ini Dery, temen baik kakak nih waktu SMA. Sekarang di UPH jurusan Art visual Design, kalo Liya jadi di UPH ketemu dia nih ntar”
”Liya” ”Dery” Kata mereka berjabat tangan
”By the way happy birthday ya Liya, semoga ketemu di UPH deh tahun depan”
”Thanks kak, semoga ya” Kata Liya tersenyum.
Lalu Opa, hadeeeh...
”Sini cantik, Ini Oom Hari! Tau kak Departemen Store *piip Nah beliau ini General Managernya”
”Makasi Oom udah mau dateng”
”Sama-sama Liya, selamat ulang tahun ya! Ngomong-ngomong menurut kamu gimana Departemen Store *piip itu di Bali? Bagus gak? Yah kalo disini sih standar larislah, kalo dibali orang-orangnya katanya high-high gitu ya? Lebih suka barang luar negeri? Jadi denger-denger gak suka ke departemen stote giitu ya?” Nah Liya mulai gak suka nih sama Oom ini apaan coba topiknya? Penting gak sih? Zzzz
”Eh itu, gimana ya? Ehm” Nah pas sekali Liya diselamatkan oleh kehebohan tamu undangan lain yang bersorak setelah peari belly dance mulai ’on the floor’. Liya langsung menusup kekerumunan tamu, sbodo Oom Hari!
Nah Ia Liat Wijus Rama lagi kumpul sama sodara-sodara yang lain di pojokan tempat ’minum’, lumaanlah santai sebentar. Liya menghampiri mereka, ngobrol sebentar dan berfotolaah.. hihi.. Kak Dera menghampiri Liya memberinya kipas bulu ayam, yah lumayan buat kipas-kipas, iyalah masak mau dimakan?
Nah pas Liya lagi asik-asiknya nih cerita-cerita ada suara dentingan Piano gitu, melodi lagu ’Happy birthday’. Refleks Liya menoleh ke Piano, yah disanalah Kevin. Entah siapa ang suruh malah pake Jas warna Putih, jadi di Pesta itu Cuma Liya dan Kevin yang pakai ’putih’.
”Happy sweet seventeen birthday ya Liya, mana nih Liyanya? Would you come here Liya?” Kata Kevin di Mike-nya. What a sureprise! Tiba-tiba aja Yali sudah menarik tangan Liya dan mengajaknya berjalan ke arah Piano, dan herannya Liya tidak menolak.
Kevin tersenyum ke arah Liya, Liya seperti mimpi saja. Kevin menyampingkan duduknya, seakan memberi space untuk Liya duduk. Liya duduk dengan canggung disebelah Kevin.
”Melodi ini untuk gadis cantik bergaun putih disebelah saya ini, dia suka sekali ’A whole new world’ and this is for you Liya!” Kevin mulai meminkan Pianonya, Liya udah hampir sesek nafas saking bahagianya. Setelah Kevin selesai mamainkan pianonya, semua orang bertepuk tangan, dan ada orang baik hati yang meredupkan lampunya dan mengarahkannya ke dance floor, sepertina ada modern dance yang akan tampil, perhatianpun sukses teralihkan.
Oma menunggu Liya berdiri, sepertinya sekarang Oma yang akan ’menyiksa’ Liya.
”Thanks ya kak, maaf Liya ditunggu Oma” Bisik Liya ke Kevin, lalu mengekor Oma pergi. Kevin tersenyum saja dan mengisaratkan ’Ur welcome’
”Liya ini Tante Maya, yang punya bakery *piip itu. Yang cheesecakenya Liya suka banget ’kan?”
”Ohya Oma? Makasi tante udah mau dateng, Liya suka sekali lo, cheesecake bakery tante” Kali ini Liya serius tertarik gak kayak kolega-kolega Papi atau Opa tadi.
”Ah Liya bisa aja, ngomong-ngomong selamat ulang tahun ya, tuhan memberkati Liya. Kapan-kapan Liya dateng dong ke Bakery tante, nanti tante kasi gratis deh” Kata tante itu sambil berkedip-kedip lucu.
”Hehehe beres tante, tante nikmati hidanganna ya, Liya dipanggil kakak sebentar ini” Tante Maya tersenyum dan melambai.
Kak Yali udah narik Liya lagi aja nih.
”Liya udah tau dong beliau-beliau ini siapa? Mama Papanya Kevin” Iyalah Liya tau, nahkan Liya jadi blushing salting sendiri.
”Ah Iya kak tau, Makasi ya tante Oom sudah mau dateng”
”Sama-sama Liya, Happy birthday ya” Kata Tante sambil cipika-cipiki ke Liya. Dan bersalaman dengan Oom (Papanya) Kevin.
”Iyalo tante si Liya ini ’kan nge-fans banget sama Kevin dari dulu!” Sambar Yali gak penting banget, buat Liya.
”Kakaaak” lagi-lagi jurus andalan (baca:memelas)
”Really? Kevin ganteng ya Liya? Dan sekarang lagi jomblo looo” Goda tante. Wajah Liya jangan ditanya, tomat matangpun kalah merahnya.
”Udah dong Ma, kasian tuh Liyanya salting!” Kata Oom, Kak Yali cekikikan aja, bahagia gitu dengernya. Dan Papi datang disaat yang tepat.
”Halo semua, kumpul disini toh?” Sapa Papi
”Hey Nanta!” Kata Papa Kevin, lalu Papi dan Papa Kev berjabat tangan dan berpelukan sejenak *serasa mengheningkan cipta sejenak.
”Dan si cantik, Mom of the Piano Prince!” Kata Papi ke Tante
”Ah bisa aja kamu nanta” Lalu mereka berjabat tangan.
”Tapi bener kan? Anyway, please enjoy the party ya? Liyana dipinjem dulu..” Kata Papi sambil menarik tangan Liya.
”Okay, Bye Liya!” Kata tante, Om melambai dan Kak Yali ngobrol lagi sama tante dan Om.
Lagi-lagi Papi....
”Ini Oom Hanujaya, yang punya PT. *piip detergen yang banyak dipake ibu-ibu Indobesia” So hubungannya sama Liya? Pikirnya
”Makasi Oom sudah datang malam ini, nikmati acaranya ya, maaf kalo ada kesalahan yang terjadi”
”Iya sama-sama terimakasih sudah mengundang Oom ya, dan selamat ulang tahunnya semoga jadi pebisnis sukses kayak Opa dan Papa kamu ya!” Liya mesam-mesem aja dengernya.
Papi narik Liya lagi ke Oom Herman King Of Property. Oom Nunu Produser PH *piip. Tante Aluni yang punya Skin care Blabla. Oom Anto yang punya Internasional School *piip. Tante Rianty yang punya Butik blabla, Oom Yadi blabla. Tante Intan Lalalala, Oom Ridwan dududu. Liya capek!
”Pi Liya capek, minum dulu ya...” Katanya dengan gaya andalan
”Yaudah sana tapi ntar balik lagi ya” Liya mengangguk, dalam hati ”Maaf tapi jangan harap PI!”
Liya mengambil segelas lemon squash, lalu membawanya ke tepi kolam. Sesuai janji, gak ada pesta-pestaan di pinggir kolam. Rasanya Liya pengen nyebur aja, gerah dan capek, bosen pula.
”Ngapain disini Liya” Tanya sebuah suara, kayaknya tau. Yah kebetulan sekali benar. Kevin.
”Eh Kak Kevin, Iya sumpek di dalem Kak, Papi tarik Liya ke sana-sini, bosen, capek lagi” Kata Liya kaak lagi curhat.
”Ya wajarlah, Papi kamu kan Cuma pengen kamu kenal sama kolega-koleganya”
”Iya sih kak, tapi ya gitudeh. I’m noot good with the strangers
”Tapi gak keliatan gitu sih Liya, kamu kan ramah-ramah aja sama tamu-tamu Oom Nanta?”
”Yaialah Kak! Masa Liya mesti galak gitu? Aneh Iya galak ke tamu” Liya meletakkan gelasnya yang kosong sembarang saja di meja pinggir kolam. Ia mulai menggosok-gosok lengannya yang ’telanjang’, gaunnya kemben sih, dingin juga dipinggir kolam malem-malem.
”Ngomong-ngomong makasi ya Kak ’A whole new world''nya. Kak Yali ya yang bilangin?”
”Ho’oh. Dia bilang kamu suka sekali itu. Untung aku emang bisa, kalo gak pasti gak sempet lagi buat belajar dulu”
”Hehehehe bagus dong kak, jadi Liya ngerepotinnya gak begitu banyaklaah, but still hatchi.. hatchi...” Kayaknya Liya beneran masuk angin nih.
”Tuh kan masuk angin. Pasti idenya si Dera deh kamu pake baju kebuka gini” Pernah nonton FTV kan? Terus pernah dong nonton adegan cowoknya ngelepas Jas terus dipasangin dipundak yang cewek? Nah that’s happen from Kevin to Liya.
”Gak kebuka juga sih kak, Cuma pundaknya aja. Lagipula lucu dong kalo Liya pake Jeans sama kaos, namanya juga pesta hehe”
”Iya memang, tapi cukup buat bikin kamu masuk angin itu namanya kebuka juga”
”Tapi kan, hatchi.. hatchi...”
”Duh, makin parah tuh melernya, masuk aja yuk!” Kata Kevin tanpa babibu lalu menarik tangan Liya buat masuk. Liya gak begitu konsen Ia sibuk menahan ingusnya agar tidak menetes.
”Kak Liya ambil tissue dulu ya” kata Liya sambil lalu.
Liya masuk ke kamar mandi di kamar tamu ang dipake Kak Dera tadi. Waktu mau masuk ke toilet Jasnya dilepas. Nah pas balik keluar yah Liya lupa bawa Jasnya lagi.
Waktu Liya keluar, tamu udah pada pulang. Kevin, Oom dan Tante juga sudah akan pulang. Mereka pamit dan basa-basi sebentar dan beberapa jepretan foto tentunya, hehehe. Tante dan Oom ke mobil duluan dianter keuar sama Papi, Kevin belakangan karena pake cari Kak ali sama Dera dulu buat pamit. Waktu Liya nganter Kevin ke Depan Ia baru ingat Jasnya!
”Ahiya! Jasna ketinggalan Kak, bentar deh Liya ambil dulu”
”Eh gak usah Liya, nanti aja ya, soalna gak enak sama Papa-Mama udah nunggu di mobil. Aku pulang ya, thanks pestanya dan inget jangan mau disuru-suruh Dera peke baju kebuka lagi ya” Kata Kevin sambil ’dada-dada’ aku balas melambai juga.
Setelah semua tamu benar-benar pulang, baru kami sekeluarga mengadakan sesi pemotretan. Karena benar-benar capek Liya pamit ke kamar duluan, tentunya setelah mengatakan pada Ica, Vina, Angel, untuk ke kamarnya setelah mereka ganti baju. Lalu Liya babibu sebentar sama yang lain. Liya kembali ke ’kamar tamu yang dipakai Kak Dera tadi untuk mengambil Jas Kevin, Ia menyimpannya dengan baik di ’lemarinya’. Setelah itu iya mandi, dan Ia seperti ’Pajamas Party’ kecil-kecilan di kamar Liya. Mereka lalu ketiduran karena sama-sama capek. Dua hari kemudian keluarga dan sahabat-sahabat Liya pulang ke Bali. Tapi Liya tetap di Jakarta, sesuai janji Ia akan menemani Papi disini sampai liburan usai.
***
Yali menggoda Liya habis-habisan, waktu Liya minta no ponsel Kevin. Yali tau sih kronologis ’peminjaman’ Jas itu, tetap saja dia belum puas kalo dia belum godain Liya, yah walaupun pada akhirnya dikasih juga nomernya.
”Tenang aja dek, Kevin jomblo kok, kamu boleh deketin dia, kakak dukung kok!”
”Apaan sih kakak? Kok nyuruh adiknya jadi genit?” Liya kesel sendiri.
Liya menghubungi Kevin untuk mengembalikan Jas itu. Lama-lama Jasnya sudah kembali tapi komunikasinya lanjut terus. Malah lebih sering, bahkan kadang mereka Skype-an. Kevin juga kan beberapa kali ke Bali karena ada usaha Distro cabang Bali waktu itu.
Dan itu tanggal 19, mungkin 2 bulan lebih setelah ulangtahun Liya. Kevin dan Liya resmi jadian.
Ceritanya waktu itu Kevin lagi di Bali. Yah urus distronya, dia telpon Liya miinta ditemenin makan siang. Ya mumpung Liya gak sibuk, ya Liya bilang iya. Tiba-tiba aja pas habis makan Kevin bilang ...
”Liya, aku suka kamu, kamu mau gak pacaran sama aku?”
Liya mangap asli, gede banget, mukanya cengo banget waktu itu.
”Eh sekarang pasti April Mop ya?”
”Bulan April udah lewat Neng, serisus nih”
”Itu tadi artinya Kakak nembak Liya ya?”
”Iyalah, masak nembak tembok?”
”Kakak serius?”
”Serius duarius tigarius... Jawab dong Liya!”
”Kalo itu serius it’s a ’yes’ kalo itu gak serius it’s a ’no’ !”
”Berarti kita jadian ya sekarang?” Tanya Kevin
”Iya kali” Jawab Liya
”Kok iya ’kali’ ?”
”Terus apa dong?”
”Apa kek”
”Apa nek boleh gak kak?” Kata Liya mulai ngawur.
”Serius Liya!” Kevin mulai kesal.
”Oke! Kita, eh maksudnya Kevin dan Natalia resmi jadian hari ini"
”Nah gitu dong kan bagus!” Kata Kevin cengar-cengir
Yah begitulah cara mereka jadian, menurut Liya sih aneh, and a bit silly. But Liya really enjoy it. Because she love Kevin much.
 *********
Chapter #4 - END 



PS : Cuma Fiksi and Just Dedicated for @apriliokevinFC :)  
'this part' dibuat untuk melengkapi 'part' sebelum-sebelumnya.

XOXO 
AYU DAMAYANTHI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Thank you so much for reding mine, you definitely made my day!<3
Leave your comment, l'll give you my feedback as soon as I can.


Stay in touch, find me on IG/Twitter/Pinterest/Polyvore
@ayudamayanthi