Kamis, 05 Mei 2011

Daughter Impromptu


Nataliya's Side Story  
Nataliya Hariana H.W. hidup bahagia selama 16 tahun bersama Maminya di Bali. Sepanjang hidupnya ia hanya tau Papinya sudah meninggal sejak Ia lahir, dan sampai saat itu Liya tidah tau apa kepanjangan H.W. dibelakang namanya. Liya dan Maminya beragama Budha, yah layaknya pengikut Budha di tempat Liya sehari-hari sembahyang ada foto Papinya, dan ironisnya itu satu-satunya Foto Papinya yang mereka miliki, dan yang lebih menyedihkan lagi Liya bahkan tak tau nama Papinya, karena disetiap surat-surat penting Liya nama Ayah telah diganti menjadi Nama wali yaitu Gungkak(kakek) Liya ‘Anak Agung Bagus Hariana’. Liya bahkan tak kenal satupun sanak keluarga Papinya, Ia hanya tau saudara-saudara Maminya. Sering Liya ingin bertanya pada Maminya tentang Papi dan Keluarga Papinya, tapi selalu Liya urungkan karena Liya sering, sering sekali mendapati Maminya sedang menangis ketika melihat foto Papinya itu, Liya takut membuat Maminya semakin sedih. Sebelum menikah dengan Papi Liya, Maminya adalah seorang ‘Anak Agung’ yah semacam klan Bangsawan di Bali. Nama Maminya adalah ‘Anak Agung Ayu Yashinta Hariana’.
Bagi Liya, Mami adalah segalanya. Mami adalah pusat hidupnya. Mami wanita paling kuat yang pernah Liya temui. Sebagai Single parent Maminya bekerja keras sejak Liya kecil untuk dapat menghidupi Liya dengan lebih dari sekedar layak. Masa kecil Liya habiskan di rumah kecil mereka dipinggir pantai Tanah Lot-Tabanan. Maminya memiliki jabatan cukup bagus disalah satu hotel ternama di dekat pantai Tanah Lot. Mami selalu berusaha memberi yang terbaik untuk Liya, terutama pendidikan. Walau meraka tinggal di wilayah yang masih terbilang ‘desa’, Mami berusaha mengenalkan Liya pada teknologi-teknologi canggih, terutama Internet, Mami selalu berkata,”Belajar dari Internet itu menyenangkan Liya, disana Liya bisa dapet semua informasi, asal Liya bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidakk baik untuk Liya ketahui.”
Sejak kecil walau tidak tinggal bersama Gungkak(kakek) dan Niang(nenek)-nya Liya cukup dekat dengan keduanya karena Liya dan Mami selalu mengunjungi mereka tiap akhir pekan, dan kalau liburan juga, karena Maminya tidak tega meninggalkan Liya sendirian di Rumah Tabanan.
Akhirnya ketika akan masuk SMP Liya dan Maminya pindah ke Denpasar, ke rumah kakek Liya. Mami Liya mendapat tawaran pekerjaan yang menarik di Hotel Bintang Lima di Denpasar waktu itu. Gungkak dan Niang tentu sangat senang mendengarnya apalagi saat itu Tante Ani, adik Mami berencana akan menikah dalam waktu dekat.
Rumah Gungkak cukup besar ada 6 kamar tidur, 1 dapur bersih dan kotor, ruang tamu, ruang keluarga dan teras depan serta kebun belakang serta merajan di lantai 2. Dulunya Gungkak dan Niang bekerja di Kantor Gubernur, serta memiliki bisnis kebun cengkeh dan pengolahannya, kebunnya sendiri terletak di Kampung Gungkak di daerah Buleleng. Belakangan setelah pensiun Gungkak dan Niang lebih serius mengurus bisnis cengkeh dan Niang juga membuka toko bakery disebelah rumah.
Awalnya sulit untuk Liya bersekolah di lingkungan yang berbeda, apalagi Liya adalah tipe orang tidak mudah akrab dengan orang lain, she didn’t like strangers. Untungnya sejak kecil Liya sangat dekat dengan sepupu-sepupunya yaitu anak Kakak-kakak Maminya. Ada Gung Nana dan Gung Deva anaknya Ajung Gede(Kakak tertua Mami Liya); lalu Gung Rama dan Gung Ayu anaknya Ajung Alit(Kakak kedua Mami Liya) dan si Kecil Rena (anak Tante Ani). Biasanya di keluarga Maminya, kakak laki-laki di pangggil Wi jus & mbok jung untuk kakak perempuan. Sejak kecil di keluarga Maminya Liya dipanggil “Gek ‘ya” yaitu kependekan dari Gek Liya. Nah, karena itu pula-lah mereka bersekolah di yayasan yang sama waktu itu Mbok jung Nana SMA kelas tiga, Wijus Deva&Rama kelas 1 SMA dan Mbok Jung Ayu kelas 2 SMP. Karena beda usia hanya setahun inilah Liya dan Jung Ayu sangat dekat, malah Liya kadang bermain dengan teman-teman Jung Ayu juga disekolah. Sampai SMA Liya juga kebetulah satu sekolah lagi dengan Jung Ayu jadi yah, kadang mereka lebih terlihat seperti sahabat ketimbang saudara sepupu.
Nataliya memiliki wajah oriental, namun matanya bulat sempurna, mata Mami-nya. Kulitnya putih semi pucat khas kulit peranakan pribumi & China. Rambut Liya lurus, hitam berkilau ditata dengan model Bob dan poni rata. Hidungnya lumayan mancung. Pipinya selalu merona walau tidak sedang tersenyum dengan sebuah lesung pipi di pipi kanan. Bibirnya merah alami. Tinggi badan Liya sekitar 169cm dengan berat badan 50 kg. Singkat kata Liya cantik dengan caranya sendiri.
Liya tidak pernah mengikuti extrakulikuler yang sama, Ia suka mencoba hal-hal yang baru. Namun. Sejak SMP Liya menekuni dunia fotografi dan seni. Pada waktu senggang ia suka mendesain apa saja, gambar baju, desain kasar gaun atau melukis di kanvas. Liya hampir guling-guling di lantai saking senangnya ketika ulang tahunnya yang ke-16 lalu, Gungkak dan Niang memberinya Cannon EOS  D60   Sebelumnya Liya memotret menggunakan Kamera digital yang dibeli Maminya dan sebuah Polaroid hasil penyisihan uang jajannya selama setahun.
Suatu siang di bulan Januari, Liya dan Vina, Angela, Ica – teman-teman yang berhasil berteman cukup dekat dengan Liya, sedang akan makan siang, (ehm makan sore mungkin tepatnya itu sekitar pukul 16.00) di salah satu café di Centro setelah sebelumnya sibuk berfoto-foto ria di sekitar pantai Kuta atas paksan Ica.
Teman-teman Liya yang lain sudah duduk di Solaria & menunggu pesanan datang, tapi Liya seperti biasa tidak bisa menahan godaan semacam Fro-yo jika sudah di mall. Yah pergilah Liya untuk membelinya sendiri. Liya berjalan sambil menyendok Fro-yonya dan iseng-iseng noleh ke salah satu restoran fastfood disana…
“Ah? Mami? Ngapain disana?” Kata Liya pada dirinya sendiri. Yah. Tadi sebelum beli Fro-yo Liya ijin akan pulang terlambat karena sedang jalan-jalan bersama teman-temannya, lalu Mami-nya bilang “Boleh aja, Mami juga kayaknya bakal pulang telat, ada meeting sama client” gitu katanya.
Aneh gak sih meeting di restoran fastfood sama pemuda yang keliatannya anak kuliahan masih nampak muda, pakaiannya T-shirt, jeans dan sepatu Kets. Liya geleng-geleng kepala, gak bener nih.
Tanpa dapat dicegah Liya mendatangi tempat duduk Maminya dengan “anak kuliahan” itu.
“Mami katanya ada meeting?” Tanya Liya to the point ketika sudah di depan Mami-nya
“Liya? Ngapain disini?” Mami nampak lebih kaget dari Liya.
“Yah malah balik nanya! Liya kan udah Ijin mau jalan sama temen-temen. Mami tuh yang harusnya jawab, katanya ada meeting, apaan malah disini? Sama anak kuliahan pula” Kata Liya sambil menoleh bergantian pada Maminya dan anak kuliahan itu. Loh? Wajahnya kok familiar, siapa ya? Bathin Liya ketika menatap lelaki itu.
“Nataliya, Mami bisa jelasin kok, dengerin Mami ya..” Kata Maminya melembut, Ia tau sekali jika sedang emosi Liya jangan dilawan karena itu hanya akan membuat Liya semakin marah.
“Nataliya?” Kata pemuda itu sambil menyentuh pipi Liya dengan tangan kananya.
“Ih! Apasih pegang-pegang Liya! Lepasin we!” Kata Liya sambil menepis tangan pemuda itu.
“Dan Mami, Liya tunggu penjelasannya dirumah, Liya pamit Mi” Katanya sambil balik badan menuju pintu keluar.
Ah Liya sudah badmood, tapi demi teman-temannya Ia bersikap sewajarnya saja.
***
Malamnya dirumah…
Tok Tok Tok…
“Sayang, Mami mau bicara”
 “Masuk” Kata Liya Kaku. Lalu Maminya masuk, Ia berdiri saja di ambang pintu, seperti mengerti kalau Liya sedang tak ingin diganggu
“Mami mau bicara soal yang tadi sore nak” Liya tetap pada kegiatan awalnya sejak tadi – mantengin komputer sama kamera yang sedang mentransfer data. Nampak Ia tak tertarik pada apa yang akan dikatakan Maminya.
“Dia itu anak dari pemilik hotel tempat Mami kerja, kami ketemu buat membicarakan rancangan kurikulum kerja baru untuk hotel, dan asal Liya tau, kami seharusnya bertemu bersama dewan direksi dan yang lain juga, tapi semua berhalangan hadir.” Liya merasa Maminya berbohong.
“Di restoran fastfood? Tanpa satupun kertas proposal atau berkas surat atau bahkan Laptop?” Mami Diam
“Dimeja yang terlihat disiapkan untuk dua orang? Tolong deh Mi, dia itu kelihatannya lebih cocok jadi kakak Liya” Maminya masih diam, hanya diam lama sekali.
“Liya capek, would you let me sleep Mi?” Kata Liya sambil mematikan komputernya.
“Sleep well dear…” Kata Mami sambil menatap Liya dengan nanar lalu menutup pintu.
Sedih sekali rasanya melihat Mami menatapnya seperti itu, tapi bagaimanpun juga Liya kaget mendapati Maminya sedang seperti “berkencan” dengan pemuda yang lebih pantas jadi putranya. Liya hanya salah faham.
Namun semuanya tidak membaik beberapa hari belakangan, Liya malah seperti mengacuhkan Mami-nya. Mereka seperti sedang perang dingin. Sampai akhirnya welcome disaster…
****

Seperti biasa setiap hari Kamis sore Liya dan Niang berkebun di taman belakang rumah sambil ngerumpi dan nungguin Mbok Jung Ayu dateng, Mbok jung biasanya dating buat nyiramin kebun mawar mungilnya. Ada seseorang yang memencet bell didepan Niang yang kedepan karena liya sedang menyiram kebun kerisan kecilnya.
Liya sudah selesai menyirami bunganya tapi Niang belum juga balik. Akhirnya Liya yang menyusul Niang kedepan.
“Niang… Niang… Niaaaang.. Ada siapa sih? Kok lama buka pintu aja?”
Liya mengamati orang-orang yang ada di teras depan rumahnya itu, kelihatan seperti orang kaya, pakaiannya “cling-cling” semua. Ada sepasang lansia. Lalu, Hah? pemuda yang bersama Mami di restoran fasfood beberapa hari yang lalu? Dan seseorang yang mirip sekali dengan…
“Papi?” Kata Liya refleks sambil menahan bibirnya agar tidak mangap lebih lebar lagi. Lalu Ia mencubit tangannya sendiri “Aw!” Sakit, berarti bukan mimpi, pikirnya.
“Nataliya…” Kata orang mirip Papi itu sambil mendekati Liya, Liya mundur beberapa langkah.
“Anda siapa? Kenapa mirip sekali dengan almarhum Papi Liya?” Tanya Liya
“Beliau memang Papi Liya, Papi kita..” Kata pemuda yang bersama Mami bersama itu
“Papi apa? Papi siapa? Kita? Kamu bukannya orang yang sama Mami Liya waktu itu ya?” Liya tambah bingung
“Saya memang Papi kamu Nataliya, Saya belum meninggal seperti yang kamu tau, dan ini Yalieo Kakak Liya, serta Oma dan Opa” Kata Orang yang mengaku Papi Liya itu
“Duh ini lagi shooting reality show ya? Kok Liya gak nangkep lucunya ya? Kameranya mana? Niang ini kerjaan siapa sih?” Liya mulai ngelantur, kepalanya mulai pening.
Niangnya diam saja menatap Liya dengan nanar tanpa dapat berkata apa-apa.
“Enam belas tahun yang lalu Opa mengusir Mami Liya karena Opa memang tidak menyetui pernikahan Mami dan Papi Liya, terlebih setelah Mamimu melahirkan anak Perempuan, buakannya anak Laki-laki. Saat itu Papi kamu terkena tumor otak, Opa suruh Mamimu memilih tinggalkan Papi dan Yali dan Papi diobati atau tetap tinggal dengan Papi dan pergi dari rumah tanpa membawa apapun dan Papimu tidak mendapat pengobatan. Mamimu memilih pilihan pertama, dia menepati janjinya dia pergi dan tidak pernah lagi muncul, sampai beberapa hari lalu Yali ngamuk dirumah dan meminta kita untuk bertemu secepatnya.” Kata lelaki tua yang menyebut dirinya Opa itu.
Liya mulai berpegangan di pintu sebelahnya dunia benar-benar terasa berputar di kepala Liya.
“Jangan salahkan Papi kamu Nataliya, Papi tidak tahu apa-apa, Ia menghabiskan 8 tahun untuk melawan penyakitnya, namun setelah Ia sembuh Opa tanpa sadar mendoktrin Papimu untu membenci Mami dan Kamu, dan celakanya Papi kamu termakan perkataan Opa. Maafkanlah Papi kamu Liya, Maafkan Opa, Maafkan Ka..”
“CUKUP !!!! Kalian semua orang-orang paling jahat di dunia ini!” Liya menyela perkataan Opa itu, Dadanya sudah terlalu sesak untuk mendengar perkataan Opa itu.
“Mau apa lagi kalian kesini?!” Teriak Gungkak dengan suara melengking. Tiba-tiba saja Gungkak dan Mami Liya turun bersamaan dari mobil dan masuk ke rumah, duh makin persis reality show nih keadaannya.
“Jadi selama 16 tahun ini Mami membuat Liya hidup dalam kebohongan?” Tanya Liya dengan nada yang sangat rendah dan nelangsa.
“Liya dengerin Mami ya, Mami bisa jelasin semuanya, tolong beri Mami kesempatan bicara Liya..” Mami Mendekatinya, Liya menepis tangan Maminya.
“Enggak ada Mami, gak ada yang perlu Mami jelaskan lagi. Semuanya sudah cukup jelas buat Liya!” Liya mati-matian menahan air matanya.
“Ayolah Liya, Maafkanlah Kami, pulanglah bersama Kami..” Omanya bicara
“Pulang? Saat Liya bayi dengan mudahnya Kalian membuang Liya dari rumah kalian, sekarang kalian minta Liya pulang? Pulang kemana? Ini rumah Liya ! Lebih baik kalian yang pulang!! Sana Pulang!!” Kata Liya sambil menunjuk pintu gerbang yang masih terbuka.
“Kenapa diam? Gak mau pergi dari rumah Liya? Yaudah Liya yang pergi! Liya gak sudi deket-deket penjahat!” Teriak Liya.
Liya berlari ke kamarnya, menyambar jaket memakainya sembarangan, lalu Kunci motor, dan terakhir pisau buah yang ada dimeja belajar.
“Minggir semua! Gak ada yang halangin jalan Liya!” Kata Liya sambil mengarahkan Pisau itu kesegala arah. Yalieo maju mendekati Liya. Lalu Liya malah mengarahkan pisau itu ke dadanya, semua orang benar-benar mundur sekarang. Liya sudah menyalakan motor ketika Niangnya menghampiri dan memberi handphonenya.
“Gekya bawa HP ya, nanti Niang telpon” Niang memeluk Liya sejenak, Liya diam saja, saat Niangnya minggir. Liya langsung menyalakan motornya, ketika sudah melewati gerbang rumah Liya langsung memacu motornya dengan kencang. Ia menangis dalam diam. Otaknya kacau sekali. Hatinya? Jangan ditanya saking hancurnya mungkin serpihannya bisa terbang bersama debu.
***
Liya menghentikan motornya didepan rumah yang cukup besar di daerah Gatot Subroto. Rumah siapa lagi? Yah Rumah Mbokjung Ayu. Ditekannya lkakson motor dengan keras dan berkali-kali, lalu dilepasnya helm yang dikenakannya, Ia menjambak rambutnya sendiri. Ia kelihatan depresi sekali, air matanya tidak mau berhenti mengalir. Seorang lelaki paruh baya keluar tergopoh-gopoh sepertinya kesal ada yang membuat keributan didepan rumah sore-sore begini. Setelah melihat keadaan Liya lelaki itu tidak jadi marah malah menatap Liya prihatin, dia tampak akan bicara, tapi disela Liya..
“Pak Tut, parkirin motor Liya didalem ya” Kata Liya lalu masuk berlalu melewati lelaki itu.
Liya berjalan setengah berlari dari depan gerbang sampai menuju pintu rumah Mbokjung-nya, ternyata Wijus Rama sedang di depan pintu menunggu Pak Tut yang ngecek kedepan. Liya Masih menangis lalu menubruk Wijus Rama dan memeluknya. Liya menangis semakin kencang dipelukan Wijus Rama.
“Gekya kenapa? Kok dateng-dateng nangis?” Wijus Rama tak mengerti ada apa denga Liya, Dia hanya membelai-belai rambut Liya berusaha menenagkannya. Liya diam saja.
“Gekya Kenapa?” Pekik Mbokjung Ayu ketika melihat Liya menangis dipeluk kakaknya. Mbokjung tampak siap berangkat, sepertinya akan pergi, yah Ia memang akan berangkat kerumah Gungkak, kan’ hari ini jadwalnya berkebun bersama Liya.
Liya melepas Wijusnya lalu menubruk Mbokjung sekarang, dan menangis lagi, sekarang sampai sesenggukan segala, Ia berbicara diantara tangisnya…
“Gekya benci Mami, Papi, Opa juga! Semuanya jahat sama Gekya, Gekya mau disini aja sama Mbokjung sama Wijus, Gekya gak mau pulang! Gekya benci Mami!” Kata Liya, sekarang tangisnya semakin menjadi-jadi Ia menangis meraung-raung. Liya merasa Matanya mulai sakit.
“Gekya cerita di dalem aja ya, sekarang kita masuk aja dulu..” Kata Wijus Rama sambil memapahnya..
“Ke kamar Jungayu aja Wijus” Kata Mbokjung Ayu. Liya pasrah saja ketika lagi-lagi dipapah ke tangga.
Mbokjung, Wijus?” Suara Liya terdengar melemah
“Ya?” Jawab mereka serempak.
“Gekya anggap Mbokjung sama Wijus bisa dipercaya, jadi tolong jangan bilang siapa-siapa Gekya disini ya..” Liya mulai merasa limbung, matanya terasa berkunang-kunang, dan di anak tangga terakhir sebelum mencapai lantai 2, Ia merasa semuanya gelap. Liya pingsan.
***
Liya terbangun sekitar pukul 9 malam, Ia mendapati dirinya dikamar Mbokjung Ayu dan sendirian. Kepalanya terasa berat sekali, dan Ia haus. Ketika melewati cermin Liya miris melihat bayangan wajahnya, Mata bengkak, hidung merah, dan rambut acak-acakan. Ia melangkah keluar kamar seolah tak peduli dengan penampilannya. Ketika melewati ruang TV untuk mencapai dapur, Ia melihat pemuda yang katanya Kakaknya. Hati Liya terasa sakit lagi ketika melihatnya.
“Ngapain kamu disini?” Tanya Liya datar kearah pemuda itu.
“Gekya sudah sadar?!” Kata Mbokjung nampak gembira dan baru sadar Liya disitu.
“Nataliya tolong dengerin kakak ya..” Kata pemuda itu lembut. Sebenarnya Liya bisa merasakan Pemuda itu samasekali tidak berniat jahat padanya.
“Kakak? Kakak siapa? Liya gak punya kakak!” Liya bicara dengan nada yang sangat dingin, sambil melangkah ke dapur, lalu mengambil gelas dan mengisinya dengan penuh didispenser. Pemuda itu mengikutinya.
“Kita saudara Liya, Liya adik Kakak, adik yang kakak sayang..”
“Adik? Sayang? Liya bukan adik siapa-siapa? Liya ini Cuma adik yang gak diharapkan kehadirannya!” Kata Liya sambil berjalan menuju ruang TV lagi.
“Percaya Kakak Liya, Kakak sayang sama Liya…” Kata Yalieo sambil menyentuh kepala adiknya.
Don’t touch me! Just stay away from me!Kata Liya sambil menepis dengan kasar tangan Pemuda itu.
Wijus Rama dan Jung Ayu hanya bisa menatap heran kedua orang itu, mereka samasekali tak mengerti apa yang sedang terjadi dan mereka bicarakan. Ketika Liya kembali ke ruang TV ternyata Mami-Papi, dan Oma-Opa-nya sudah disana. Oh! Mereka seperti Hantu saja dating tak dijemput pulang pun tak diantar. Hii …
“Liya boleh benci sama kakak, dan sama Papi, Opa dan Oma, tapi Liya tau? Kakak juga sama menderitanya sama Liya, Liya gak punya Papi, Kakak gak punya Mami!”
“Sama?! Sama dari Hongkong! Kamu punya Papi dirumah! Kamu bebas bertemu Mami kapanpun kamu bilang itu sama?”
“Dan kamu bilang sakit? Sakit apa? Kamu kelihatan sehat dan sangat berkecukupan!” Nah yang ini asumsi pribadi Liya
“Kamu tau artinya sakit? Sakit adalah ketika usiamu lima tahun dan ada hujan badai serta petir, tapi Ibumu tak bisa menemanimu dirumah karena Ia sibuk membanting tulang untuk menghidupimu!” Yali sudah akan bicara tapi Liya menyela dengan suara melengking
“Sakit adalah tidak tau arti nama belakang di namamu sepanjang hidupmu!”
“Sakit adalah ketika kamu melihat Ibumu menangis setiap menatap foto ayahmu yang ‘katanya’ sudah meninggal!”
“Nataliya..” Kata Papi  “Liya” Kata Mami mereka mengucapkannya bersamaan
“Sakit adalah menuliskan nama kakekmu sebagai ganti nama ayahmu!”
“Sakit adalah harus belajar naik sepeda sendiri, jatuh sendiri, mengobati lukamu sendiri, sementara Ibumu sibuk bekerja!”
“Sakit juga adalah melihat Kakekmulah yang mengambilkan rapormu kesekolah, bukannya Ayahmu!”
“Dan sakit yang paling sakit adalah hidup dalam kebohongan yang diciptakan oleh pahlawan dan wanita terbaik yang pernah hadir dihidupmu!”
“Sekarang siapa yang lebih sakit?” Semua diam, Mami mendekati Liya, Liya mundur.
“Kamu bilang gak punya Mami sakit? Apa kamu tau sepanjang hidup Liya, Liya bahkan gak pernah tau siapa nama Papi Liya?!”
“Kenapa semua diam? Semua ‘sakit’ gigi ya?” Tanya Liya dan menekankan kata sakit.
“Baik, sepertinya sudah cukup bicara soal sakit, silahkan pulang dan tidur ya semua!” Kata Liya sambil mulai menaiki anak tangga menuju lantai 2.
“Ahya ngomong-ngomong semua kesini untuk menanyakan keadaan Liya kan? Ini Liya kasitau ya, Liya umpamain gelas ini Liya, atau lebih tepatnya Hati Liya…” Kata Liya berhenti di anak tangga ke-3 dan berbalik badan dan menatap ‘keluarga’nya bergantian. Liya membanting gelas yang ada digenggaman tangannya sekencang yang Ia bisa kelantai.
“Hati Liya pastinya lebih hancur dari gelas itu! Suatu saat kalau kalian mau berusaha mungkin kalian bisa membentuk hati itu lagi. Tapi ketika hati Liya terbentuk kalian akan bisa melihat dengan jelas retakan-retakan yang kalian buat dan bekasnya mustahil akan menghilang! Selamat malam semua..” Kata Liya melembut di akhir pembicaraannya.
Liya membalik badannya, melanjutkan mendaki anak tangga, setelah masuk ke kamar Mbokjung Liya merasa dunia gelap lagi.
***
Liya terguncang sekali dengan keadaan ini. Dokter yang memeriksanya mengatakan secara fisik Liya sehat, tapi dia dibawah tekanan yang sangat berat, alam bawah sadarnya berontak akan ketidakadilan yang dilakukan keluarganya.
Ketika bangun, mungkin tengah malam, Liya mendapati jidatnya dikompres menggunakan handuk kecil, disebelahnya Mbokjung sudah tidur, Wijus juga tidur si sofa. Ah, alangkah baiknya mereka, bathin Liya. Ia menangis lagi sampai akhirnya ketiduran.
***

Keesokan harinya Niang dan Gungkak datang untuk menjenguk Liya dan membawakan barang-barang Liya. Mulai dari buku pelajaran, Pakaian, sampai kamera dan laptop. Sepertinya mereka mengrti Liya tidak akan pulang dulu dalam waktu dekat.
Liya diam saja waktu niang memeluknya. Ia makan dua suap saja bubur yang Niang bawakan.
“Niang, Gekya kenyang, Gekya mau sendiri dulu ya” Kata Liya
Nggih, Niang pulang ya, nanti Niang sering-sering kesini, Gekya baik-baik ya disini” Kata Niang lalu menyelimuti Liya. Liya menutup matanya, berusaha untuk tidur.
Niang menatap Liya dengan nanar. Ia juga ikut sedih melihat keadaan Liya. Ia hafal dengan sifat Liya, Liya itu kuat dan sangat penyayang, wataknya keras dan Ia paling tak suka dipaksa, sejak kecil hidupnya sudah susah tanpa kehadiran seorang Ayah. Yah, untuk saat ini mungkin lebih baik untuk tinggal disini sementara sampai keadaan membaik.
***

Liya benar-benar tinggal dirumah Ajung Gede sementara ini. Ketika Ajung gede dan Ibu(Mamanya Mbokjung & Wijus) pulang dari kampung dua hari setelah kejadian itu, mereka berpura-pura tidak terjadi apa-apa saja, mereka bertingkah seolah Liya sedang menginap biasa saja dirumah mereka. Liya juga menjalani hidupnya biasa saja, malah sekarang lebih praktis, kan berangkat sekolahnya bareng Mbokjung Ayu.
Tapi, Liya yang sekarang bukan Liya yang dulu. Dulu Liya cekatan, cerdas dan sangat ceria. Sekarang Ia lebih banyak diam, melamun, diajak bicara kadang tak nyambung bahkan kadang diam saja seperti tidak menyimak, matanya sering sembap, dan parahnya lagi berat badannya kentara sekali merosot, tak pernah lebih dari dua sendok tiap makan, dulu Liya kurus sekarang ya begitulah makin kurus lagi. Singkat kata ia seperti raga tanpa nyawa, tak ada semangat hidup.
Akhirnya fisik Liya yang kalah, Ia pingsan lagi ketika akan berangkat kesekolah. Ketika dibawa kerumah sakit kata dokter Lambungnya mengalami peradangan, yah sudah bisa ditebak pasti karena sudah dua minggu ini Liya tidak makan dengan baik.
***
Liya terbangun dan mengamati sekelilingnya, seperti rumah sakit modern, dan kamarnya luas sekali. Kepala Liya terasa pening sekali, lambungnya terasa perih. Ia merasa tangannya ditusuk sesuatu, ternyata selang infus. Ia mengamati sekelilingnya. Maminya duduk dengan cemas di kaki ranjang, Papi dan Kak Yali berdiri di sisi ranjang dan ada Opa-Oma serta Niang-Gungkak juga disana.
“Air” Kata Liya dengan suara parau.
Dengan sigap Yali mengambilkan air, Liya minum menggunakan sedotan, semua diam memperhatikan Liya. Yali juga meninggikan kepala ranjang agar Liya bisa duduk dengan nyaman.
“Liya pasti laper kan? Mami suapin ya?” kata Mami. Mami juga kelihatan tak sehat, ia kurusan dan dengan jelas terlihat lingkaran ditam di bawah matanya.
Liya diam saja selama disuapi Maminya, bahkan Ia makan cukup banyak. Alam bawah sadarnya pasti begitu merindukan Maminya, bagaimanapun Mami adalah orang paling penting di hidup Liya. Setelah makan, Liya minum obat dan tertidur lagi, mungkin salah satu obatnya adalah obat penenang.
Tengah malam Liya terbangun, Ia mendengar sayup-sayup orang bercakap-cakap…
“Liya gak akan tau betapa Opa pengen mati aja melihat kamu seperti ini. Opa merasa bersalah sekali sama Papi-Mami-Yali-terutama kamu Opa telah memisahkan kalian. Kalau berlutut dan mencium kaki kamu bisa membuat kamu memaafkan Opa, akan Opa lakukan Liya, bahkan Opa mau lakukan yang lebih dari itu, apapun itu.. Tapi Opa tau gak akan semudah itu untuk memaafkan kesalahan Opa…”
“Sudahlah Pa, nati Liya kebangun lo denger omongan Opa” Seperti suara Oma
“Ah iya… Yaudah deh Opa pulang ya Liya, Liya cepet sembuh, Opa sayang Liya..” kata Opa membelai rambut Liya, Oma-nya mengecup Pipi Liya sekejap. Lalu Liya mendengar suara pintu ditutup
Alam bawah sadarnya mulai goyah, Ia hanya meangis tanpa jadi bangun.
***
Keesokan paginya Liya memaksa dirinya bangun, Ia perlu mandi, walaupun Ia belum terlalu kuat untuk berdiri. Ia mandi dengan kursi roda selang infus. Lalu Mami menyuapi Liya makan, Ia menurut saja tapi tetap tak bicara apapun. Saat Mami sedang menyisir rambut Liya, Papi dan Kak Yalieo datang. Kak Yali nampak membawa rangkaian bunga Sedap Malam, dia tau saja Liya sangat suka aroma bunga Sedap Malam.
“Liya suka bunga sedap malam kan?” Kata Yali sambil meletakkannya di vas bunga, Liya melihatnya sebentar tapi menatap kosong lagi. Papi miris sekali melihat Liya seperti itu.
“Liya hari ini seseorang namanya Tante Ira mau ketemu Liya, nanti Liya ngobrol ya sama tante Ira.. Mami sama yang lain keluar dulu..” Kata Mami lalu berlalu ke pintu setelah membelai rambut Liya. Yali keluar paling belakang, mengecup kening Liya dan berkata “Cepet sembuh sayang, kakak sayang Liya..”
***
Orang yang disebut Mami Liya Tante Ira itu ternyata adalah seorang psikolog, Ia akan memberi Liya terapi ringan, Ia tidak ingin membuat Liya merasa tidak normal, walaupun alam bawah sadar Liya pastinya tau sekarang Ia dalam keadaan tidak normal.
“Selamat pagi Nataliya..” Kata wanita berusia 30-an itu dengan ramah. Seperti sebelumnya Liya menatapnya sekilas dan lagi lagi menatap kosong.
“Liya kan panggilan kamu? Kamu itu cantik Liya coba kalau senyum pasti deh tambah cantik” Tetap Liya tak bergeming.
“Liya lagi ada masalah ya? Mau cerita gak sama tante?”
“Oke deh kalo Liya gak mau cerita, tante yang cerita ya…”
“Jadi ini kisah nyata lo, kita sebut saja gadis ini Rina ya. Usianya mungkin baru 15tahun saat ia sadar Ayahnya akan menjualnya ke sebuah prostitusi, malangnya lagi Uang hasil ‘penjualan’ diri Rina digunakan untuk foya-foya oleh ayahnya. Rina gak bisa berbuat apa-apa, yah naas akhirnya Rina hamil karena ‘dijual’ itu. Setelah ia berhasil keluar dari jeratan prostitusi itu ia menitipkan anaknya di sebuah panti asuhan. Selanjutnya Ia meneror hidup ayahnya, membuat ayahnya mendapat masalah setiap hari, membuatnya berdosa telah menjual Rina, Rina berhasil. Hidup ayahnya berantakan apalagi Ayahnya tak bisa lagi mendapat uang dengan menjual Rina.”
“Tapi hati Rina berontak, hatinya sadar betapapun jahatnya Ayah Rina, Rina tak bisa membencinya, Ia menyayangi Ayahnya. Akhirnya Rina menyerah, Ia berhenti meneror ayahnya, Ia memberi Ayahnya makan dan Ia berkata Ia sudah memaafkan Ayahnya. Rina tau semuanya tak akan sama seperti dulu lagi, tapi Rina merasa lebih lega…”
“Okay Liya cerita tante segitu dulu ya, besok tante balik lagi tengok Liya, sekarang Liya istirahat aja ya..” Kata Tante Ira sambil menuntun Liya berbaring dan menyelimuti kaki Liya.
Saat Tante Ira sudah keluar Liya meangis lagi, Rina yang ‘dijual’ ayahnya saja memaafkan kenapa Ia tidak?
***
Malam harinya lagi-lagi Liya terbangun. Ia mendapati seseorang sedang membelai rambutnya..
”Adek tau gak? Dulu waktu Mami hamil Liya kakak seneeeeng banget kakak pikir gak akan kesepian lagi kalo Mami sama Papi juga Oma dan Opa  pergi kerja, kakak bayangin kita bakal main sepeda bareng, berenang bareng, and we happy together
And it’s all just happening.. Like a shit broke up our life... harusnya kita kakak adik yang kompak dan saling sayang, kakak gak bisa bohong awalnya Kakak gak ngerti sama Opa, kakak sering nentang Opa, Yah hubungan Kakak sama Opa kurang baik….”
“Kakak grown Up dek, and even hard and hurt Kakak maafin Opa, and I’m just focus with you and Mami… Asal Liya tau, Kakak punya semua… semua foto Liya dari bayi sampe sekarang di kamar kakak, Dari dulu kakak pngen banget peluk Liya sama Mami, dan kalo kakak kangen kalian yang Kakak lakuin Cuma bisa meluk foto-foto itu. Opa mungkin bisa kurung Kakak dikamar atau stop Uang jajan kakak tapi itu gak akan berentiin Kakak buat terus perhatiin perkembangan Liya… Just belive me, Kakak sayang Liya..”
“Liya cepet sembuh ya, Kakak tidur dulu, di sofa kok, kakak akan selalu ada buat Liya” Kak Yali mengecup Kening Liya dan berlalu ke sofa.
Liya membuka matanya lalu menangis dalam diam sambil mnatap langit-langit.
***
Hari ke-3 Liya dirumah sakit keadaanya membaik tapi dokter belum berani mencabut infusnya, karena melihat Liya belum makan dengan baik sepenuhnya, jadi agar ada zat makanan yang terus masuk ke tubuh Liya.
Hari ini tante Ira membawa Liya jalan-jalan menggunakan kursi roda keliling taman rumah sakit. Tante Ira ingin Liya kembali bersosialisasi dengan lingkungannya jadi Ia memilih taman rumah sakit saja. Ia menghentikan kursi roda di tempat yang agak sepi agar Liya bisa tenang tapi tetap dapat melihat sekelilingnya.
”Liya suka matahari pagi kan? Jadi nikmatin ya.. Liya bebas liatin awan.. Untung cerah ya..” mata Liya mulai memandangi awan... Benar saja dia mulai luluh dengan hal-hal yang Ia sukai.
Sebelum kembali ke kamar Tante Ira membawa Liya melihat sal anak dari luar. Disana ada beberapa anak yang menderita Kangker.
”Liya liat anak-anak itu? Mereka jauh lebih muda dari Liya. Mereka juga sedang berjuang melawan penyakit Kangker, jadi Liya juga berusaha sembuh ya? Liya mau sembuh kan?  Liya gak kesepian emang gak ada temen ngobrol?” Tante Ira melihat mata Liya seperti ’hidup’ sebentar tapi yaah... Kosong lagi.
***
Untuk menghindari sakit karena kecapekan keluarga Liya bergantian menjaganya, sepertinya malam itu giliran Papi-nya. Papi duduk dipinggir ranjang sambil menggenggam tangan Liya..
”Liya gaktau kan berapa lama Papi bermimpi untuk bisa berada didekat Liya kayak gini. Sekarang setelah Papi berada di dekat Liya sepertinya Papi memang sudah terlambat ya, dosa Papi ke Liya sudah terlalu besar, 16tahun Papi tidak menyaksikan Liya tumbuh besar...”
”Kalau aja ada yang bisa Papi lakukan buat kamu maafin Papi, Papi akan lakukan Liya, semuanya, semuanya buat Liya, bahkan kalau tuhan mau nyawa Papi untuk kamu..”
Liya sudah tak kuat lagi mendengarnya, Ia pura-pura menggeliat agar Papinya segera pergi. Berhasil. Papi kaget dan diam. Ia segera berdiri, mengecup Pipi Liya sedetik.
”Cepet sembuh cantik Papi, Papi sayang Liya” Ketika Liya mendengar langkah kaki menjauh, Liya membalik posisi tidunya, lalu menangis sambil memandangi vas bunga. Memaafkan walaupun menyakitkan? Batinnya ...
***
Keadaan fisik Liya sudah dinyatakan pulih oleh dokter. Bahkan ketika Tante Ira masuk ke kamar Liya, perwat baru saja melepaskan selang infus yang dipasang di tangan Liya. Hari ini Tante Ira akan mengajak Liya ke taman lagi, tentunya dengan kursi roda.
”Untung hari ini cerah lagi ya Liya... Nah yuk kita liat kebun mawarnya!”
”Liya suka mawar?” Tanpa diduga Liya tersenyum sambil memandang kebun mawar kecil itu dan Tante Ira.
”Tuh kan tante bener, Liya tambah cantik kalo lagi senyum!”
”Liya mau denger cerita tante lagi?” Liya mengangguk
”Kamu liat gadis itu?” Tante Ira menunjuk seorang wanita, eh, gadis mungkin sekitar duapuluhan. Cantik sekali tapi sayang, rok yang dikenakannnya tampak melayang, ia berdiri dengan bertumpu pada dua buah tongkat penyangga yang ia jepit dengan ketiaknya.
”Ia dulunya seorang model, naas nasibnya, ketika ia akan pergi ke sebuah pemotretan dengan disetiri Ibunya, Ia mengalami kecelakaan. Ibunya lalai tak melihat ada truk yang datang dari arah berlawanan, langsung saja menghantam mobilnya. Ibunya mengalami geger otak ringan dan patah pada persendian kaki. Ia selamat hanya saja kakinya terjepit mobil yang ringsek. Tuhan hanya menginginkan kakinya rupanya...  yah kamu tau kan Liya apa artinya kaki bagi seorang model?” ’segalanya’ bathin Liya.
”Ia mengutuki kebodohan Ibunya setiap hari, Ia menangis dan menangis. Ia merasa telah kehilangan hal terbaik yang pernah ia miliki” Tante Ira bercerita sambil menatap gadis yang nampaknya sibuk bercanda dengan anak-anak kecil pasien rumah sakit itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you so much for reding mine, you definitely made my day!<3
Leave your comment, l'll give you my feedback as soon as I can.


Stay in touch, find me on IG/Twitter/Pinterest/Polyvore
@ayudamayanthi